Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Temu Kerrong dan Malam Puisi—Acara Penutup Menuju Puncak Dies Natalis UKM Seni Nanggala

Gambar
Temu Kerrong dan Malam Puisi—Acara Penutup Menuju Puncak Dies Natalis UKM Seni Nanggala Bangkalan, 27 Oktober— Selepas dua rangkaian acara (Workshop Metode Penciptaan Karya dan Workshop Stage Manager) lalu, tibalah acara Temu Kerrong dan Malam Puisi pada 20 September 2025. Kolaborasi acara Temu Kerrong dan Malam Puisi merupakan rangkaian ketiga menuju puncak perayaan Dies Natalis UKM Seni Nanggala ke-24. Temu Kerrong bagai wadah suara muda menanyakan: bagaimana manajemen waktu di antara peran ganda, menjaga amanah, dan menumbuhkan jiwa keNanggalaan yang kadang hilang. Sementara Malam Puisi menjelma altar kata, mengumandangkan rima laksana doa.  Melalui acara Temu Kerrong yang mengembangkan kesadaran dan Malam Puisi yang menyalakan asa, UKM Seni Nanggala menutup rangkaian pra-Dies Natalis UKM Seni Nanggala ke-24. Kini jalan menuju puncak telah terbentang dan Nanggala berdiri di ambang perayaan. UKM Seni Nanggala; setiap berpijak, kami membajak!  Oleh: Intan Ramadhani

Papastèna Angèn Menggema di Balai Budaya Surabaya

Gambar
Papastèna Angèn Menggema di Balai Budaya Surabaya Bangkalan, 27 Oktober— Malam 17 Agustus 2025 menjadi saksi ketika angin menyampaikan pesan dari Madura ke jantung kota Surabaya. Dalam rangkaian ARTSUB, UKM Seni Nanggala kembali menyala melalui pertunjukan yang bertajuk Papastèna Angèn yang berlangsung di Gedung Teater Lt. 2, Balai Budaya Surabaya. Pertunjukan ini merupakan hasil rekonstruksi dari persembahan UKM Seni Nanggala di Eksotika Bromo yang lalu pada 21 Juni 2025. Begitu cahaya panggung perlahan menyala, doa berbahasa Madura yang diikuti dentuman musik daul membuka gerbang pertunjukan. Gedung pertunjukan seakan laksana bentang malam: gelap, tapi penuh dengung kehidupan. Musik daul yang mengalun berpadu dengan lakon aktor yang berbicara dengan gerak. Pertunjukan Papastèna Angèn membawa penonton menelusuri ulang relasi manusia dengan alam: bagaimana nelayan meminta laut dan pantai tanpa merampas dan mengembalikannya hati-hati sepenuh hati agar tak mati. "Setiap gemuruh yang...