Papastèna Angèn Menggema di Balai Budaya Surabaya
Papastèna Angèn Menggema di Balai Budaya Surabaya
Bangkalan, 27 Oktober—Malam 17 Agustus 2025 menjadi saksi ketika angin menyampaikan pesan dari Madura ke jantung kota Surabaya. Dalam rangkaian ARTSUB, UKM Seni Nanggala kembali menyala melalui pertunjukan yang bertajuk Papastèna Angèn yang berlangsung di Gedung Teater Lt. 2, Balai Budaya Surabaya. Pertunjukan ini merupakan hasil rekonstruksi dari persembahan UKM Seni Nanggala di Eksotika Bromo yang lalu pada 21 Juni 2025.
Begitu cahaya panggung perlahan menyala, doa berbahasa Madura yang diikuti dentuman musik daul membuka gerbang pertunjukan. Gedung pertunjukan seakan laksana bentang malam: gelap, tapi penuh dengung kehidupan. Musik daul yang mengalun berpadu dengan lakon aktor yang berbicara dengan gerak.
Pertunjukan Papastèna Angèn membawa penonton menelusuri ulang relasi manusia dengan alam: bagaimana nelayan meminta laut dan pantai tanpa merampas dan mengembalikannya hati-hati sepenuh hati agar tak mati. "Setiap gemuruh yang datang pasti akan reda. Buihnya menyisakan senyum, juga kerut di dahi. Arah angin yang menentukan—membawa kabar melalui desirnya. Tentang perampasan yang terjadi, tentang ketidaksadaran yang berulang, hingga buih pun tak lagi putih. Kepada angin kita meminta—yang diberi akan dikembalikan dan sebaliknya." merupakan narasi inti pertunjukan Papastèna Angèn.
Malam 17 Agustus 2025 tidak dimiliki UKM Seni Nanggala saja. Tari kontemporer oleh Hari Ghulur dan Sanggar Topeng Dalang Putra Sumekar turut memikat penonton dengan simbolik. Perpaduan tiga pertunjukan ini menjadikan panggung Balai Budaya Surabaya sebagai ruang pertemuan antara angin, laut, tubuh, dan tradisi.
Bagi UKM Seni Nanggala, panggung ini merupakan langkah awal untuk merawat semangat masyarakat pesisir melalui karya, laksana kayu yang melarungkan diri dan rela menjadi rumah bagi terumbu karang.
Oleh: Intan Ramadhani

Komentar
Posting Komentar