SETELAH PANGGUNG DIBONGKAR, KE MANA ARAH SENI BERLABUH?
SETELAH PANGGUNG DIBONGKAR, KE MANA ARAH SENI BERLABUH?
Oleh: Intan Ramadhani
Catatan dari Ruang Persimpangan dalam Seperempat Abad Perjalanan UKM Seni Nanggala
Seorang anak laki-laki berdiri cukup lama di seberang panggung setelah pertunjukan selesai. Orang-orang berangsur meninggalkan ruangan. Lantai dan tribun di segala sisi yang padat, sesak, kini mulai kosong dan berjarak. Dari belakang terdengar suara panitia. Sejumlah pemain mengganti kostum. Beberapanya mengobrol sambil berjalan menuju pintu. Musik berhenti, tetapi melodinya tinggal di kepala.
Anak laki-laki itu masih di sana, berdiri menghadap panggung yang mulai kehilangan fungsinya. Penerangan yang menyorot tubuh para aktor dimatikan. Tidak ada lagi cerita yang bergerak di atas panggung. Hanya ruang kosong dan beberapa panitia yang sibuk-gelibuk mengembalikan kepada keadaan semula.
Saya memerhatikan sebagai seseorang yang selama berbulan-bulan hirup, hidup di tengah persiapan acara ini, memikirkan kemungkinan yang jauh lebih sederhana daripada seluruh konsep yang kami susun. Bagaimana jika seseorang datang sebagai penonton, lalu pulang dengan keinginan untuk mencoba? Bagaimana jika sebuah pertunjukan tidak usai, selesai sebagai sesuatu yang sebatas disaksikan, melainkan menjadi keberanian kecil dalam diri seseorang?
Anak laki-laki itu kemudian menoleh saat seseorang memanggil dari arah luar dan saya merasa sebuah pertanyaan terus-menerus mengikuti saya. Ia tidak muncul ketika festival berlangsung. Ia datang setelah berbagai pekerjaan yang menyita perhatian kami mulai usai, selesai satu per satu.
Selama masa persiapan, kami tidak memiliki cukup waktu untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan besar. Selayaknya kebanyakan panitia acara, pikiran kami lebih sering ditentukan dari hal-hal yang sangat dekat dengan kenyataan. Terkadang sebuah pekerjaan selesai hanya untuk digantikan pekerjaan lain. Kami merasa telah memastikan sesuatu, lalu beberapa jam kemudian menyadari bahwa ada hal lain yang belum dipikirkan.
Hari-hari saat tempat pelaksanaan belum dipenuhi penonton, ruangan itu banyak menyimpan langkah kaki ketimbang tepuk tangan. Panitia membawa barang, memindahkan peralatan, memeriksa kembali sesuatu yang sudah diperiksa. Ketika pekerjaan menumpuk dan hari pelaksanaan kian dekat, jabatan dalam kepanitiaan terasa menipis. Tidak semua pekerjaan dapat direncanakan sejak awal. Selalu ada sesuatu yang baru muncul saat acara kian dekat.
Trunodjoyo Art Festival 2026 lahir, hadir dalam rangka perayaan seperempat abad perjalanan UKM Seni Nanggala. Dua puluh lima tahun adalah masa yang cukup panjang. Telah ada orang-orang sebelum kami yang melangkah di tempat yang sama. Mereka pernah datang sebagai anggota baru, belajar, berlatih, menciptakan pertunjukan, berdebat mengenai gagasan, dan meninggalkan ruang ini kepada generasi kemudian.
Kami datang di tengah perjalanan yang berlangsung. Kesadaran itu menjadikan perayaan dua puluh lima tahun tidak cukup jika hanya dipahami sebagai perayaan ulang tahun. Ulang tahun memiliki kecenderungan untuk melihat ke belakang. Kita menghitung usia, mengingat perjalanan, orang-orang yang pernah terlibat, lalu merayakan yang berhasil dilalui. Namun, kami juga ingin memandang ke depan. Lantaran dua puluh lima tahun bukanlah garis akhir. Ia menyerupai sebuah persimpangan. Dari titik tertentu kita dapat menoleh ke belakang dan mengenal beberapa jejak, meskipun sebagiannya tertutup waktu.
Dari kegelisahan itulah kami memikirkan "ruang persimpangan". Kami tidak ingin sebuah festival hanya menjadi tempat orang-orang datang, menyaksikan pertunjukan, kemudian pulang, kendati memang pertunjukan adalah bagian penting dari festival. UKM Seni Nanggala hirup, hidup melalui kesenian dan panggung merupakan tempat di mana ia memperoleh tubuhnya. Namun, apakah semua akan selesai ketika acara usai?
Persimpangan Datang Lantaran Banyak yang Berkemungkinan Berkesenian
Ada tangan terampil yang dipakai tanpa tujuan, ada keinginan menimba tapi tak menemukan wadah untuk tumbuh, ada semangat dalam lingkaran kecil, dan ada pemuda yang dibesarkan gagasan bahwa seni hanyalah warisan bagi yang lahir mahir.
Keyakinan semacam itulah yang ingin kami rusak. Kami tidak ingin seni berdiri terlampau jauh dari kehidupan masyarakat. Kami tidak ingin panggung menjadi batas yang memisahkan orang-orang yang dianggap siap dengan mereka yang datang untuk menonton. Lantaran sebelum seseorang menjadi pemain, ia pernah menjadi penonton.
Persimpangan merupakan gambaran yang paling dekat dengan apa yang kami bayangkan. Ia tidak memaksa orang yang datang dari arah tertentu untuk meninggalkan asal. Mereka dapat datang dengan tujuan berbeda, membawa pengalaman berbeda, bahkan melanjutkan perjalanan ke arah yang berbeda setelah pertemuan usai, selesai.
Bagi kami kesenian dapat menjadi tempat pertemuan semacam itu. Desa dapat bertemu kota. Tradisi dapat berpapasan dengan modernitas. Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sebagaimana masyarakat juga dapat mengambil sesuatu dari mahasiswa.
Kami meyakini perubahan besar tidak selalu lahir, hadir dari panggung yang besar. Bisa jadi ia berawal dari percakapan yang hanya didengar beberapa orang. Dari kelas kecil yang berlangsung tiap bulan. Dari kunjungan ke desa yang hanya direncanakan biasa. Sesuatu yang kecil, jika terus-menerus dilakukan, dapat memiliki kehidupan yang lebih panjang ketimbang perayaan yang berlangsung beberapa hari.
Beberapa saat sebelum acara dimulai, sebagian tribun masih kosong. Di beberapa sudut, panitia bergerak menyelesaikan pekerjaan terakhir. Ada yang memeriksa kembali posisi peralatan, ada yang memastikan kebutuhan aktor, pula ada yang memandang jam lebih sering. Kemudian penonton mulai berdatangan satu per satu, kemudian dalam jumlah yang kian banyak.
Dari belakang panggung, suasananya berbeda. Saya ingat bagaimana orang-orang bergerak dengan hati-hati sepenuh hati. Semua aktor mengenakan kostum. Ada yang bercermin, memperhatikan rupa muka sendiri seakan-akan sedang memastikan bahwa tubuh yang beberapa saat lagi memasuki panggung benar-benar siap menjadi orang lain. Seorang aktor mengulang dialog dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Seseorang bercanda, tapi tidak ada yang tertawa. Barangkali mereka menyimpan kegugupannya masing-masing.
Penonton nantinya hanya akan menyaksikan seseorang berdiri di atas panggung dengan tubuh yang tampak siap. Mereka tidak mengetahui bahwa beberapa saat yang lalu orang yang sama sedang melangkah mondar-mandir di belakang lantaran tidak tau mau menyikapi kegugupannnya dengan cara apa.
Saat-saat pertunjukan kian dekat, seseorang memberi isyarat bersiap dan tidak lama kemudian lampu berubah. Percakapan perlahan merendah. Penonton menghadap ke satu arah. Sebagai panitia, semestinya saya tetap memerhatikan berbagai hal di sekitar. Masih ada pekerjaan, masih ada kemungkinan suatu peristiwa. Namun beberapa saat setelah pertunjukan dimulai, saya mendapati diri saya menyaksikan. Saya berhenti menjadi panitia. Setidaknya untuk sementara saya menjadi penonton. Dan saya menyadari bahwa selalu ada sesuatu yang berubah saat sebuah pertunjukan benar-benar dimulai.
Karya Itu Telah Keluar dari Tangan Penciptanya, Ia Tidak Dapat Mereka Kendalikan
Penonton tidak selalu menunjukkan keterlibatan dengan tepuk tangan. Ada saat pertunjukan mencapai suatu bagian dan satu ruangan menjadi sangat diam. Diam yang berbeda dari keadaan sebelum pertunjukan dimulai. Seorang penonton di bagian depan mencondongkan tubuh. Sebagiannya bergeming. Tidak ada yang tau pasti bagaimana sebuah karya bekerja pada orang lain. Dua orang dapat duduk bersebelahan, menyaksikan pertunjukan yang sama, kemudian pulang dengan pengalaman berbeda.
Dalam perjalanan dua puluh lima tahun UKM Seni Nanggala, kami membawa tema “Marka Lakat, Simpang Papat” sebagai cara untuk memandang sebuah perjalanan. Marka adalah penanda perjalanan. Ia berada di jalan untuk membantu manusia mengenali tempat yang sedang dilalui. Bagi kami kesenian juga meninggalkan marka. Seseorang datang, membuahkan sesuatu, generasi berganti. Ruang berubah dan cara manusia memandang juga berubah.
Lakat adalah sesuatu yang menempel. Sebuah bekas, ingatan, jejak yang tidak selalu dapat dilihat, tetapi tetap tinggal. UKM Seni Nanggala hirup, hidup di dalam jejak orang-orang sebelum kami, sebagaimana suatu hari nanti akan ada orang lain yang berjalan di atas jejak kami. Simpang Papat kemudian wadah berbagai arah bertemu. Tradisi dan modernitas, kampung dan kota, mahasiswa dan masyarakat. Kami ingin saling membawa apa yang dimiliki dan saling belajar dari apa yang belum dimiliki.
Ketika pertunjukan usai, tepuk tangan datang. Senyum muncul setelah ketegangan selama pertunjukan selesai. Penonton mulai meninggalkan tempat duduk. Sebagiannya berbicara mengenai bagian-bagian dari pertunjukan. Sementara kami, para panitia, kembali bekerja. Begitulah pertunjukan selesai bagi kami. Masih ada yang dibereskan, barang yang dikembalikan, dan ruang yang dikosongkan. Dan di tengah pekerjaan itulah saya melihat anak laki-laki yang berdiri menghadap panggung. Tidak tau berapa lama ia berada di sana sebelum saya menyadarinya. Dalam keadaan saat semua orang bergerak dan pekerjaan dilakukan, seseorang yang diam menjadi mudah terlihat.
Setelah pertunjukan selesai, setelah panggung dibongkar, seni dapat berpindah ke dalam percakapan dua orang yang berjalan pulang, dapat berubah menjadi keinginan untuk menciptakan. Seni dapat menuju sebuah desa, memasuki kelas kecil, duduk di antara beberapa orang yang tidak saling mengenal. Barangkali itulah yang kami cari melalui ruang persimpangan. Kami ingin menciptakan sebuah pertemuan yang orang-orangnya bebas menentukan ke mana mereka akan berjalan.
Di belakang kami, terdapat jejak dari dua puluh lima tahun perjalanan UKM Seni Nanggala. Di depan kami terdapat jalan yang tidak kami ketahui. Tidak tau siapa yang akan datang, kesenian apa yang akan kembang, dan ruang mana yang kelak lahir, hadir dari pertemuan yang hari ini baru kami mulai.
Sebuah langkah dapat menjadi awal dari jalan yang panjang. Sebuah pertemuan dapat melahirkan pertemuan kemudian. Seseorang mungkin datang tanpa membawa apa pun, kemungkinan pulang dengan sebuah gagasan. Seseorang mungkin menjadi penonton hari ini, tetapi suatu hari berdiri dengan karya penciptaannya sendiri. Serupa marka di sepanjang jalan, kami ingin menjadi penanda bahwa pernah ada sebuah pertemuan di persimpangan sebelum orang-orang melanjutkan perjalanan dan pada suatu hari berani membuka jalan sendiri.

đ
BalasHapus