Day 3 Trunojoyo Art Festival 2025 UKM Seni Nanggala
Day 3 Trunojoyo Art Festival 2025 UKM Seni Nanggala
Bangkalan, 13 Desember 2025—Hari ketiga Trunojoyo Art Festival 2025 pada 26 Oktober 2025 dalam rangka Dies Natalis ke-24 UKM Seni Nanggala menghadirkan rangkaian pertunjukan yang menjadi ruang pertemuan antara bunyi, gerak, dan ingatan tentang tanah, waktu, dan tubuh yang berdenyut dalam semangat Nusantara.
Dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta dengan pertunjukan musik “Lokantara”, yang berarti Karya Lokal Nusantara. Melalui alunan yang merangkul ragam bunyi dari Banyuwangi, Bali, Papua, Kalimantan, Madura, hingga Jawa, Lokantara menjadi perayaan atas keberagaman dan harmoni. Setiap daerah menyumbang warna dan irama, berpadu menjadi komposisi musik yang dinamis. Dalam Lokantara, suara daerah tidak hanya terdengar—mereka bergaung sebagai identitas yang hidup, mengalun sebagai satu tubuh.
Dari Sanggar Seni Dharma Budaya, tersaji pertunjukan tari “Gatra Paravan”, cermin perjalanan waktu yang berakar pada nilai sejarah masa lampau. Pertunjukan ini mengaktualisasikan semangat Wiranini—prajurit wanita Paravan dari Pasuruan yang berani mati demi tanah kelahiran. Pertunjukan ini menegaskan bahwa keberanian dan cinta tanah air bukan sekadar kisah lampau, melainkan semangat yang tetap menyala di masa kini, beriring dengan modernitas dan perubahan zaman.
Masih dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, pertunjukan “Tari Gandrung Gurit Mangir” menghidupkan kembali roh tari rakyat dari Banyuwangi. Gandrung adalah lambang kemakmuran, keberanian, dan cinta yang melekat pada masyarakat Bumi Blambangan. Dalam tari ini, tubuh merupakan simbol perjuangan dan daya hidup.
Malam ditutup dengan karya “Battle Zone” oleh Puri Senja dan Martina Fiertag—sebuah dialog tubuh yang jujur, intens, dan penuh daya rawan. Berangkat dari pengalaman personal tentang disiplin, luka, dan ingatan, kedua seniman menafsir ulang tubuh sebagai ruang negosiasi antara kuasa dan perawatan diri. Melalui improvisasi korporeal, gerak tak diarahkan untuk membentuk keindahan, melainkan untuk menyingkap kerentanan dan kekuatan yang saling bersisian. Dalam ketegangan antara rapuh dan tangguh, tubuh-tubuh itu menemukan cara baru untuk bertahan.
Oleh: Intan Ramadhani




Komentar
Posting Komentar