Day 4 Trunojoyo Art Festival 2025 UKM Seni Nanggala
Day 4 Trunojoyo Art Festival 2025 UKM Seni Nanggala
Bangkalan, 14 Desember 2025—Hari keempat Trunojoyo Art Festival 2025 pada 27 Oktober 2025 menjadi penutup perjalanan panjang Dies Natalis ke-24 UKM Seni Nanggala. Malam itu panggung menjadi ruang hening yang menyala—tempat tubuh, bahasa, dan ingatan berpadu dalam satu tarikan napas kesenian.
Dari Perempuan Ekspresif, tersaji “Long Nolongen”, yang berarti 'tolong menolong'. Pertunjukan ini mengangkat nilai sosial yang mengakar dalam keseharian masyarakat Madura. Di dapur—ruang yang kerap luput dari sorotan—perempuan menemukan kekuatan. Dapur menjadi ruang sosial, tempat cerita, tawa, dan solidaritas tumbuh. Melalui simbol-simbol peralatan masak, bahan-bahan makanan, hingga dinding rumah yang menyimpan jejak generasi, Long Nolongen merupakan potret gotong royong masyarakat Madura.
Dari Blocking Theater Surabaya, “Chala” menembus ruang batin manusia; tentang kejujuran, kesadaran, dan perubahan. Melalui gerak, cahaya, dan bunyi, Chala menyingkap garis yang membentuk manusia, baik sebagai individu maupun bagian dari bangsa. Ia berbicara tentang luka dan keteguhan, tentang gesekan dan refleksi, tentang perjalanan manusia dari rakyat hingga pemimpin.
Menutup puncak acara, Teater Asdrafi menghadirkan “Bulan Berkarat”—sebuah kisah megenai seorang pengemis yang berani bermimpi. Dalam dunia yang membentangkan jarak antara kemiskinan dan kemewahan, lakon ini menolak tunduk pada batasan nasib. Ia meyakini bahwa kemewahan bukanlah hak segelintir orang, melainkan keberanian setiapnya bermimpi dan memperjuangkan. Bulan Berkarat menyorot tekad manusia kecil yang ingin hidup mewah bukan karena serakah, melainkan karena ingin setara—karena mimpi adalah milik semua.
Empat hari acara Trunojoyo Art Festival 2025 UKM Seni Nanggala ke 24 bukan hanya sebagai ajang pentas, melainkan juga ruang tumbuh bagi gagasan, tubuh, dan kebersamaan. Dalam setiap karya yang lahir, seni adalah bahasa universal yang menyatukan manusia dengan sesamanya, tanahnya, dan harapannya.
Oleh: Intan Ramadhani



Komentar
Posting Komentar